Ciri-ciri
fisik sejak lahir, anak-anak hingga dewasa
Anak Indigo
terlahir dengan jiwa yang tua, atau tingkat kedewasaan dini pada usia sangat
muda atau anak-anak. Sebagian anak Indigo bahkan memperlihatkan
pertumbuhan jiwa yang luar biasa sejak usia bayi, seperti kemampuan berpikir
analitik dalam memahami fungsi benda-benda, menilai karakter orang dewasa, mengungkapkan
maksud hatinya kepada orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Pengaruh
perkembangan jiwa yang terlalu cepat itu juga tampak pada pertumbuhan fisik
seperti gigi yang muncul lebih cepat, dan kemampuan motorik seperti berjalan
dan berbicara yang lebih dulu dari bayi pada umumnya.
Karena
kemampuan anak Indigo terletak pada kekuatan jiwanya, maka bentuk fisik secara
spesifik banyak terdapat di bagian kepalanya. Ciri yang khas adalah bentuk
kepala yang sedikit agak lebih besar dari bayi atau anak-anak pada umumnya,
terutama pada bagian lingkar kepala, dan dahi serta kening yang lebih lebar.
Kuantitas
otak anak Indigo biasanya lebih besar disebabkan penggunaannya relatif lebih
sering sejak usia dini tadi. Mereka berpikir dan menganalisa setiap apa
yang dilihat, didengar atau dirasakannya.
Pelebaran
pada lingkar kepala menunjukkan penggunaan kemampuan telepati, pada kening
adalah analitik, sedangkan dahi adalah visualisasi dan imajinasi citra-citra
supranatural.
Bentuk daun
telinga pun mempunyai bentuk yang sedikit lebih keluar dari kepala, memanjang
pada bagian ujung atas, dan agak menekuk ke atas pada bagian cuping
bawah. Lebih kuatnya “insting reptil” merupakan sebab kemunculan ciri
binatang yang tergambar pada bentuk daun telinga ini.
Begitu juga
dengan mata, terutama tatapan mata yang sangat tajam dan dalam, dengan bagian
pupil atau orang-orangan mata yang lebih besar, sehingga tampak hanya tersisa
sedikit ruang untuk warna putih mata. Pandangan mata anak Indigo bertolak
belakang dengan pandangan mata anak autis. Kalau anak autis tidak bisa
menatap mata orang lain, atau tidak bisa berkonsentrasi pada satu titik dalam
waktu yang lama, sedangkan anak Indigo sebaliknya, mereka dengan berani menatap
– sambil menganalisa karakter – orang dewasa di depan mereka, dan tingkat
konsentrasinya terhadap sesuatu sangat tinggi untuk ukuran
mereka. Sedangkan orang-orangan mata yang lebih besar menunjukkan
kemampuan melihat makhluk gaib dan hal-hal yang tersembunyi lainnya dari
dimensi-dimensi lain. Selain itu ada sebagian anak Indigo yang terlahir
dengan mata agak sedikit jereng, baik ke tengah – ke arah hidung – atau ke
luar.
Susunan
gigi-geligi mereka biasanya terlihat rapi dan bagus, dan terasa sangat tajam
apabila anda merasakan gigitannya. Pada usia bayi ketika mulai tumbuh satu
dua gigi, mereka cenderung melakukan kegiatan gigit-menggigit yang lebih sering
dan intensif.
Ada semacam
tanda aneh yang mungkin ditemukan pada saat kelahirannya – dan mungkin terbawa
sampai usia beberapa tahun. Tanda itu terdapat di dahi, di antara kedua
mata, sedikit agak di atasnya. Tanda yang pada sebagian anak Indigo
terlihat cukup jelas seperti bekas pukulan yang membekas dalam dengan warna
agak gelap samar. Tanda ini seperti “mata ketiga” yang menampakkan dirinya
secara fisik.
Demikianlah
sedikit pengetahuan saya tentang ciri-ciri fisik anak Indigo, yang mungkin bisa
membantu para orang tua dalam mengenali keindigoan pada anak-anak mereka,
terutama sejak usia bayi (balita) hingga usia anak-anak. Ciri-ciri
tersebut di atas bisa saja akan bertahan hingga usia dewasa, namun biasanya
akan mengalami penurunan atau peningkatan sesuai perubahan perilaku dan emosi
jiwa. Namun secara umum, ukuran kepala yang lebih besar, bentuk daun
telinga, dahi dan kening yang lebar, dan tatapan mata akan bertahan hingga usia
dewasa.
9
Penderitaan yang Ditanggung Anak Indigo
Terlahir
sebagai anak Indigo bukanlah sebuah pilihan, tetapi merupakan takdir yang tidak
bisa dihindari. Ketika dia menyadari kehadirannya bukan sebagai orang biasa,
merasakan kemarahan yang besar terhadap perilaku manusia yang buruk dan jahat,
melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, ingin merubah dunia menjadi
lebih baik dengan kekuatan sendiri, saat itu dia tidak bisa lagi melepaskan
diri dari tanggung jawab, karena dia sudah menyadari bahwa dia adalah seorang
anak Indigo.
Hari-harinya
dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang mendesak, susah tidur dengan tenang, dan
penglihatan-penglihatan yang mengganggu pikiran dan perasaan, sepertinya
hidupnya sudah ditakdirkan untuk menanggung semua itu. Dia mungkin bisa
melupakannya untuk beberapa saat, tetapi pemikiran-pemikiran dan suara-suara
akan terus mengisi hari dan malamnya.
Berikut
adalah 10 penderitaan yang harus ditanggung oleh anak Indigo sebagai resiko
keindigoannya. Dampaknya bisa dikurangi apabila mendapatkan bimbingan dan
penyembuhan yang tepat. Bagi sebagian anak Indigo proses penyembuhan bisa
dilakukan sendiri tanpa bantuan orang lain.
1. Sakit
kepala yang hebat
Hampir semua
indigo pernah mengalami sakit kepala yang hebat. Hal ini disebabkan proses
berpikir yang keras tanpa dikehendaki, banyak hal yang ingin dilakukan tapi
tidak bisa diatasi, dan pikiran yang terlalu luas memasuki hal-hal yang tidak
bisa disentuh oleh pemikiran manusia pada umumnya. Kondisi ini memerlukan
energi besar dan proses berpikir yang berat.
Terapi obat
mungkin bisa membantu, tetapi bersifat non permanen dan beresiko kelebihan
pemakaian karena penggunaan yang terus-menerus. Meditasi dan perbaikan
aura cakra adalah terapi terbaik, selain bisa dilakukan sendiri juga mempunyai
resiko yang lebih ringan. Mungkin juga perlu belajar memperlambat detak
jantung dan menurunkan tekanan darah.
2. Susah
tidur
Suara-suara
yang mengganggu, penampakan-penampakan, melihat penderitaan alam, sukma yang
berjalan kemana-mana, dan pemikiran-pemikiran idealis yang menuntut perwujudan
membuat seorang anak indigo susah untuk tidur. Walaupun mata terpejam
tetapi tetap mendengar dan berpikir.
Anak Indigo
harus belajar untuk sering berkoneksi dengan Tuhan lebih intensif dan berpasrah
dengan segenap jiwa kepada-Nya. Lepaskan semua beban pikiran, mintalah
pentunjuk dan serahkan kepada-Nya untuk menyelesaikan.
3. Lambung
yang lemah
Salah satu
organ tubuh yang paling menderita disebabkan stress karena berpikir dengan
berat adalah lambung. Lambung yang lemah akan bereaksi negatif berupa
produksi asam lambung yang berlebihan pada saat anak Indigo stress. Makan
obat sakit lambung secukupnya dan perbanyak ibadah serta lakukan meditasi untuk
penenangan.
4. Empati
yang menyakitkan
Tidak mudah
untuk berempati terhadap penderitaan orang lain, atau alam yang sedang
dizholimi oleh manusia-manusia jahat dan serakah, sedangkan sedikit yang bisa
dilakukan untuk memperbaiki keadaan buruk itu. Rasa empati ini sering kali
berakibat buruk kepada anak Indigo. Disebabkan kepekaan yang berlebihan
pada anak Indigo, rasa empati yang mendalam bisa menjadikan dirinya ikut
menderita. Rasa empati terhadap orang yang sakit bisa membuat anak Indigo
menderita penyakit yang sama, seperti terjadi penularan walaupun bukan penyakit
yang menular.
Untuk
mengurangi efek negatif rasa empati yang mendalam ini sebagian anak Indigo
mengambil sikap tidak acuh yang berlebihan. Sehingga mereka tampak sebagai
anak yang tidak peduli lingkungan sosial dan tidak mau bergaul.
Sebaiknya
rasa empati disalurkan ke dalam bentuk tindakan langsung seperti mengobati
orang yang sakit atau berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan dan kebaikan orang
lain. Penyaluran energi dalam bentuk kepasrahan kepada Tuhan adalah jalan
yang paling efektif.
5. Rasa
marah yang mendesak
Rasa marah
melihat perilaku manusia yang buruk dan jahat adalah alasan utama seorang anak
Indigo ingin menunaikan kewajibannya. Rasa marah ini kemudian berwujud
menjadi semangat yang besar untuk mengubah keadaan menjadi lebih
baik. Bagi anak Indigo yang belum menemukan jati dirinya, biasanya rasa
marah ini bisa berakibat buruk terhadap perilakunya kepada orang di
sekitarnya. Perlawanan dan protes-protes akan selalu ditunjukkannya kepada
orang di sekelilingnya, seperti orang tua, saudara-saudaranya dan guru di
sekolah yang tidak memahami keadaannya.
6. Kepribadian
yang berubah-ubah
Persinggungan
anak Indigo dengan dimensi supranatural yang terlalu sering dan mendalam
mengakibatkan pengaruh negatif berupa “jejak yang tertinggal”. Hal ini
semacam sisa-sisa efek elektromagnetik pada sel-sel otak. Jejak-jejak
dimensi lain ini kemudian akan berulang berupa “kunjungan-kunjungan” yang
berlanjut.




